Salah Satu Efek Negatif Perkenalan melalui Dunia Maya.
Dalam artikel Koran Kompas pada tanggal 16 April 2009 yang berjudul “ Anak Kos Ditipu Teman Chatting” diberitakan bahwa ada seorang anak perempuan mengalami kekerasan seksual, penganiyayaan dan perampokan yang dilakukan oleh teman “Chatting”. Kasus yang dialami oleh SS (16) bisa dikatakan cukup unik karena orang yang menjadi pelaku kejahatan kepada diri adalah temannya yang dikenal dari dunia maya atau internet. Pelaku dan korban baru pertama kali bertemu pada saat kejadian berlangsung.
Jika dilihat dari kasus yang terjadi hal ini bisa dikaitkan dengan Johari Window Theory atau Teori Jendela Johari. Dalam teori ini digunakan sebagai salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
Dalam kasus ini, Jemi Susanto si pelaku kejahatan menempatkan posisi dirinya dalam teori Jendela Johari dalam posisi jendela ke 3 yaitu Hidden. Posisi ini merupakan keadaan dimana seseorang kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Motivasi yang dimiliki oleh Jemi saat akan melakukan perbuatannya terhadap SS tidak ada yang tahu. Hanya Jemi yang mengetahui perasaan, perilaku dan motivasi yang ada di dalam dirinya.
Pada diri SS, dia menempatkan dirinya dalam dua jendela yang berbeda. Jendela yang pertama adalah Open, dimana perilaku merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain. Saat SS kedatangan Jemi ke tempat kos nya, dia mungkin sudah mengetahui perilaku dan motivasi yang dimiliki oleh Jemi saat datang ke tempatnya dan tentunya SS sendiri sudah mengetahui perasaan dan motivasi dirinya saat Jemi akan datang.
Jendela yang kedua adalah Blind, dimana merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri sendiri. SS bisa saja tidak mengetahui perilaku dan motivasi dalam dirinya saat bertemu dengan Jemi karena dikatakan oleh SS saat dia bersedia melakukan hubunga intim dengan Jemi atas dasar bujuk rayu yang dkeluarkan oleh Jemi. Sedangkan Jemi telah mengetahui motivasi dan perilaku SS.
Teori selanjutnya adalah Social Exchange Theory atau Teori Pertukaran Sosial. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh John Thibaut dan Harlod Kelley. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.
Dalam kasus ini, pada awalnya mungkin yang terlihat dalam hubungan antara SS dan JS adalah hubungan yang seimbang antara cost dan reward. SS dapat mempercayai JS untuk berhubungan intim pada dua kali hubungan awal. Tetapi, pada saat dirasa akan melakukan hubungan yang ketiga, SS merasa reward yang didapat tidak sebanding dengan cost yang harus ditanggung. Penderitaan dan kesakitan yang SS alami, seperti penganiyaan ringan yang dilakukan oleh JS, tidak sebanding dengan apa yang akan SS dapat.
Teori Memproses Informasi Sosial atau Social Information Processing (Joseph Wealther) adalah suatu teori yang mengatakan bahwa suatu hubungan dapat bertumbuh ketika pihak pertama mendapatkan informasi mengenai satu dan yang lainnya dan menggunakan informasi-informasi tersebut untuk membentuk kesan interpersonal mengenai siapa mereka. Berikut ini adalah tahapan teori ini: informasi interpersonal → formasi kesan → dan pembangunan hubungan. Dalam teori ini dikatakan “On the internet, nobody knows you’re a dog”
Prinsip utama teori ini adalah para pengguna CMC dapat menyampaikan bahasa verbal saja sebagai medium untuk menyampaikan pesan dengan perpanjangan waktu untuk bertukar pesan yang kira-kira dapat menghasilkan dampak yang sama dengan face-to-face komunikasi melalui berbagai media. Dalam kasus ini, SS terlihat begitu mudah dalam mempercayai Jemi Susanto (JS). Sebaliknya, JS tampak begitu mahir dan ahli dalam membentuk konsep dirinya, sehingga dengan waktu yang tergolong cepat SS dan JS dapat ’sukses’ membangun hubungan yang pada akhirnya merugikan pihak SS.
Teori kebohongan (David Buller dan Judee Burgoon) adalah suatu teori komunikasi yang menjelaskan bahwa informasi yang dimanipulasi dapat digunakan dalam percakapan antara dua orang atau lebih (dari komunikan kepada komunikator) dengan berlandaskan strategi untuk mencapai suatu tujuan tertentu, contohnya menyelamatkan diri sendiri dan memenuhi sasaran. Dari sisi lain, berbohong dapat menciptakan perasaan bersalah dan keraguan. Hal ini terihat dari tindak tanduk atau perilaku nonverbal komunikannya, seperti perasaan gelisah dan berkedip-kedip lebih sering. Jika dilihat dari segi informasi yang disampaikan, informasi cenderung akan berubah-rubah dan tidak pasti.
Teori ini berhubungan dalam kasus ini. Hal ini bermula dengan informasi manipulatif yang diberikan oleh JS kepada SS melalui percakapannya untuk mencapai tujuan individu JS, yakni berhubungan-intim demi mencapai keuntungan immateriil dan materi. Hal ini terbukti dari tiga kali hubungan seksual yang dilakukan antara JS dan SS sesaat setelah bertemu. Dua kali hubungan yang dilakukan pertama atas dasar keinginan diri SS yang diiringi oleh bujukan rayuan JS. Tetapi pada saat melakukan hubungan intim terakhir, SS merasakan itu sebagai paksaan karena tangan SS diikat lakban dan dipukuli oleh JS. Tidak hanya itu saja, JS juga melakukan pencurian materi, yakni uang sebanyak dua juta Rupiah di dalam dompet SS raup.
SUMBER:
1. Buku “COMPUTER MEDIATED COMMUNICATION” social interaction and the internet.
2. http://spss.wordpress.com/2007/04/23/joh…
3. Artikel Koran Kompas edisi tanggal 16 April 2009
4. Buku “ A first Look At COMMUNICATION THEORY”.
NAMA KELOMPOK:
1. Stephanie Budi Santosa 04120060040
2. Janes Christina 04120060041
3. Nora Setiawan 04120060101
4. Ayu Sukmaputri M. 04120060160
Post a comment